hero
(ANTARA/Puspa Perwitasari)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

9 April 2018, 16:25 WIB

INDONESIA

Mendekati Pilpres 2019, bursa calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) semakin hangat. Di luar Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, sejumlah sosok semakin gamblang melempar sinyal untuk meramaikan pemilu tahun depan. NET.Z merangkum profil beberapa tokoh yang berpotensi menjadi pendamping maupun penantang Presiden Joko Widodo di Pemilu 2019. Beberapa di antaranya telah mengumumkan pencalonan secara terbuka, nama-nama lain merupakan tokoh partai dan pejabat publik yang kerap masuk dalam radar lembaga survei dengan angka popularitas dan elektabilitas yang cukup baik. 

Urutan di bawah ini sesuai abjad, bukan menunjukkan urutan prioritas. Berikut daftar calon "penantang" atau "pendamping" Presiden Jokowi di Pilpres 2019 versi NET.Z.

1Agus Harimurti Yudhoyono

Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mulai melesat masuk radar politik di tanah air sejak ikut berlaga di Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017. Meski kalah di putaran pertama, nama AHY mulai moncer di pentas politik nasional. Namanya merangsek di hasil-hasil survei sejumlah lembaga riset. 

AHY sendiri secara tersirat sudah membulatkan niatnya terjun total menjadi politikus. Di berbagai kesempatan, sinyal bahwa ia akan maju ke gelanggang Pilpres 2019 semakin terang-benderang. 
 
"Insya Allah karir politik saya panjang. Saya telah mengambil keputusan besar ketika bertransformasi dari militer menjadi seorang politisi. Saya mengamini jika ada masyarakat yang berharap saya bisa menjadi alternatif suatu saat. Kapan itu? Hanya Tuhan dan sejarah yang tahu," ujar AHY kepada awak media, termasuk Jimmy Martino dari NET, saat bersafari di Kabupaten Bandung Barat, 19 Maret 2018. Safari ini merupakan rangkaian kunjungan AHY ke 27 kabupaten kota di Jawa Barat. Selesai blusukan di Tanah Pasundan, kini AHY bersafari di Jawa Timur.

Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono disaksikan oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Rapimnas Partai Demokrat 2018 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu 10 Maret 2018 (ANTARA/Yulius Satria Wijaya)

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC), Djayadi Hanan, menilai AHY merupakan figur yang dapat diperhitungkan dalam Pilpres 2019. Menurutnya, AHY sosok pemimpin yang berpendidikan dan berasal dari keluarga politik yang mapan.

“Dia punya partai yang tidak dimiliki oleh TGB (Tuan Guru Bajang, sapaan Zainul Majdi), Sri Mulyani, dan seterusnya,” ujar Djayadi kepada Farabi Ferdiansyah dari NET.Z, Rabu 4 April 2018.

Meski berpotensi, kata Djayadi, AHY tidak cukup kuat jika disandingkan sebagai calon presiden 2019. Terlalu dini jika AHY memaksakan diri maju sebagai capres dari poros ketiga melawan Prabowo dan Jokowi. Menurut Djayadi, peluang AHY di 2019 adalah sebagai cawapres.

“Kelemahan dia adalah itu pada image dia dikarbit oleh bapaknya,” ujar Djayadi. “Kans dia adalah pada 2024 ke atas karena 2024 itu akan bertarung generasi baru dan itu termasuk generasinya AHY,” tambah Djayadi.
 

Putra Presiden Joko Widodo Gibran Rakabuming Raka berjabat tangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono usai pertemuan tertutup di Presidential Lounge, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 10 Agustus 2017. (ANTARA/Puspa Perwitasari)

 

2Airlangga Hartarto

Berkaos kuning, warna yang identik dengan Partai Golkar, Presiden Joko Widodo berjogging santai di Kebun Raya Bogor, Sabtu, 25 Maret 2018. Uniknya, teman jogging presiden saat itu adalah Ketua Umum Partai Golkar yang juga Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto. Sejumlah penafsiran pun beredar, bahwa peristiwa itu merupakan bagian dari cara Jokowi menseleksi cawapresnya. 

Airlangga tak menampik jogging pagi itu bermuatan politis. “Pembicaraan dengan pak presiden kan berbicara banyak segi. Mulai dari bagaimana customade motor itu bisa didorong oleh pengusaha-pengusaha dalam negeri. Kemudian kita bicara mengenai hobi beliau juga kan termasuk bagaimana caranya memelihara domba. Dan yang ketiga kita berjalan supaya sehat,” papar Airlangga pada Esther Cramer dari NET, di Jakarta, 26 Maret 2018. 
 

Presiden Joko Widodo dan Airlangga Hartarto berolahraga di kompleks Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu 24 Maret 2018. (ANTARA/Biropers-Muchlis)

“Yang ke-empat ya tentu berbicara tentang politik ya, tentu terkait dengan cawapres. Kami serahkan kepada beliau tapi kami bicara mengenai agenda-agenda politik kedepan,” lanjut anak Menteri Perindustrian di era Orde Baru, Hartarto Sastrosoenarto. Saat ditanya apakah merasa ini sebagai proses seleksi dari Presiden Jokowi, Airlangga menjawab diplomatis, “Ya kalau itu diserahkan kepada beliau”.

Airlangga Hartarto memang digadang-gadang Partai Golkar untuk menjadi cawapres Jokowi di Pilpres 2019. Djayadi Hanan melihat pencalonan Airlangga sebagai cawapres Jokowi sangat logis. “Kalau Jokowi mau memilih calon wakilnya berasal dari partai, yang paling logis ya Airlangga. Karena Golkar partai terbesar kedua (perolehan suara),” ucap Djayadi.

Meski begitu, kata Djayadi, Airlangga juga memiliki hambatan. Pencalonan Airlangga berpotensi mendapatkan resistensi dari partai politik lain pendukung Jokowi. “Itu bisa menjadi pemicu yang membuat kemungkinan orang seperti itu (Cak Imin) atau calon lain keluar dari poros Jokowi,” tambah Djayadi.
 

Presiden Joko Widodo dan Airlangga Hartarto memberi makan kambing seusai berolahraga bersama di kompleks Istana Bogor, Jawa Barat, Sabtu 24 Maret 2018. (ANTARA/Biropers-Muchlis) 

Airlangga Hartarto menjabat sebagai Menteri Perindustrian di Kabinet Kerja sejak Juli 2016 dan menjadi Ketua Umum Partai Golkar sejak Desember 2017. Posisi Airlangga terbilang istimewa karena dirinya tetap diizinkan presiden merangkap jabatan sebagai menteri sekaligus ketua umum parpol.

3Anies Baswedan

Nama Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, banyak disebut oleh sejumlah lembaga survei sebagai capres alternatif di luar Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Misalnya survei IndoBarometer pada Desember 2017 menyebut Anies mendapat 12,1% dukungan jika head to head melawan Joko Widodo yang menggenggam 49,9% dukungan. 

Dalam sejumlah kesempatan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan menepis spekulasi bahwa ia akan maju di Pilpres 2019. Mantan Rektor Universitas Paramadina ini juga enggan menanggapi deklarasi dukungan terhadap dirinya untuk menjadi capres oleh Forum Masyarakat Yogyakarta (FMY), Jumat 6 April 2018. FMY ini diisi oleh sejumlah aktivis dari berbagai organisasi, seperti Muhammadiyah, Forum Umat Islam (FUI), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Kahmi).
 

Presiden Joko Widodo usai melantik Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022, Senin 16 Oktober 2017. (ANTARA/Wahyu Putro A)

Djayadi Hanan mengatakan Anies mungkin saja masuk dalam bursa Pilpres 2019. Kemungkinan terbesar, kata Djayadi, Anies maju dari poros Prabowo, tidak mungkin dari kubu Jokowi maupun dari poros ketiga mengingat Anies sangat dekat dengan oposan Jokowi.  

“Kalau Anies masuk poros ketiga maka Anies akan digembosi suaranya. Akan berat jika masuk ke poros ke-3,” ujar Djayadi Hanan. Menurut Djayadi, Anies memiliki peluang lebih besar dibanding Gatot Nurmantyo untuk menjadi cawapres Prabowo karena memiliki karakter yang berbeda dengan Prabowo, bukan dari militer. Di sisi lain, Anies juga berkesempatan menjadi capres jika Prabowo tidak maju sebagai capres.

“Kemampuan Anies bisa memperluas (pemilih) karena dia memiliki jaringan yang cukup kuat di kalangan anak muda maupun di kalangan yang tadinya adalah pemilih Jokowi,” ungkap Djayadi.
 

Presiden Joko Widodo menerima Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan dan keluarga saat silaturahmi dan halalbihalal Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah di Istana Negara, Jakarta, Minggu 25 Juni 2017. (ANTARA/Puspa Perwitasari)

 

4Gatot Nurmantyo

Salah satu figur alternatif yang menjadi sorotan publik dalam bursa Pilpres 2019 adalah mantan Panglima TNI 2015-2017, Jendral (Purn.) Gatot Nurmantyo. Usai pensiun pada 31 Maret 2018, poster Gatot Nurmantyo yang digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan pun tersebar.

Deklarasi dukungan secara terbuka pun muncul, salah satunya dari elemen masyarakat yang menamakan diri Gatot Nurmantyo untuk Rakyat (GNR). Mereka mendeklarasikan dukungan kepada Gatot di Restoran Pulau Dua, Jakarta Selatan, Jumat 6 April 2018. 
 

Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bersama pejabat baru Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kiri) melakukan salam komando usai upacara pelantikan di Istana Negara, Jakarta, Jumat 8 Desember 2017. (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Djayadi Hanan menyebut Gatot merupakan figur alternatif Prabowo. Karakter Gatot sama dengan Prabowo yakni berasal dari militer.  “Dia lebih santri dibanding Prabowo, lebih menonjol keislamannya dari Prabowo sehingga ia mudah berkomunikasi dengan kalangan Islam, terutama yang tidak dukung Jokowi,” ucap Djayadi.

Meski memiliki karakter dan massa yang cukup kuat, Djayadi mengatakan kelemahan Gatot ada pada kendaraan politiknya. “Kelemahan dia adalah tidak punya kendaraan tergantung kepada restu apakah dia ditarik oleh Prabowo atau ditarik poros Demokrat?” kata Djayadi.
 

Deklarasi dukungan kepada Gatot Nurmantyo sebagai Calon Presiden pada Pilpres 2019, Jumat 6 April 2018. (ANTARA/Muhammad Adimaja)

Sementara itu, peneliti komunikasi politik Effendi Gazali menilai Gatot salah satu figur alternatif yang cukup kompetitif untuk bersaing di Pilres 2019. Menurutnya, Gatot mampu mengelola 3 isu sentral dalam Pilpres 2019 yakni isu Partai Komunis Indonesia (PKI), kriminalisasi ulama, dan kedaulatan Indonesia. “Dari ketiga isu itu Gatot terdepan,” ucap Effendi Gazali saat diwawancarai oleh Farabi Ferdiansyah dari NET.Z di kawasan Matraman, Jakarta, 3 April 2018.  

5Muhaimin Iskandar

Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar menghadiri pelatihan kepemimpinan dan wirausaha di Ponpes Riyadul Ulum Wada'wah, Condong, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin 19 Maret 2018. (ANTARA/Adeng Bustomi)


Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar merupakan salah satu figur yang telah mendeklarasikan diri menjadi calon wakil presiden di Pilpres 2019. Foto dan baliho Cak Imin, panggilan khas Muhaimin, telah tersebar di berbagai daerah. Muhaimin digadang-gadang mampu membawa gerbong suara Nahdlatul Ulama (NU).

“Kalau berita langit sudah hampir pasti ke saya kok, berita langit. Jadi jangan pesimis dulu,” ujar Cak Imin kepada Irez Anggraini dari NET, usai berziarah ke makam Mantan Ketua MPR, Taufik Kiemas, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Minggu 25 Maret 2018. 

“Terhadap Pak Jokowi ini saya optimis karena saya akan berkontribusi banyak suara, banyak dukungan dari kalangan Islam, kalangan NU, kalangan pemilih PKB yang 11 juta itu,” lanjut Muhaimin optimis.
 

Sejumlah santri menunjukkan poster saat Muhaimin Iskandar menyampaikan orasi politik di Ponpes Riyadul Ulum Wada'wah, Condong, Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin 19 Maret 2018. (ANTARA/Adeng Bustomi)

Djayadi Hanan mengungkapkan Cak Imin memiliki posisi tawar yang cukup tinggi mengingat menguatnya politik identitas di Pilpres 2019. Menurut Djayadi, Cak Imin cocok untuk di poros Jokowi dan Prabowo karena memiliki karakter konstituen (pemilih) yang berbeda.

“Problem Jokowi adalah kurang dekat dengan aspirasi umat, dan dia bukan militer. Kalau enggak cari dari militer, dari kalangan Islam,” kata Djayadi. “Daya tawar itu bisa juga di Prabowo,” pungkas Djayadi.

6Mahfud MD

Nama Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD sempat meramaikan bursa Pilpres 2014. Kala itu, Mahfud digadang-gadang menjadi capres oleh Partai Kebangkitan Bangsa. Kini, menjelang Pilpres 2019, nama Mahfud kembali santer masuk bursa cawapres. Mahfud MD mengaku tidak mempermasalahkan isu yang berkembang. Menurutnya setiap orang boleh berpendapat. Namun dirinya menegaskan tidak ingin aktif membangun opini.

"Jawaban saya sudah pasti tidak ingin. Kan kalau ingin, saya buat poster, membuat tim sukses," ujar Mahfud kepada Farabi Ferdiansyah dari NET.Z di Matraman, Jakarta, 3 April 2018.

Namun Mahfud mengisyaratkan tidak menolak apabila ada capres atau partai yang ingin meminangnya. Menurut Menteri Pertahanan di era Gusdur ini, tidak ingin bukan berarti tidak mau. "Tidak ingin dan tidak aktif, tapi bukan berarti tidak mau, beda kan tidak ingin," kata Mahfud MD. "Nanti sajalah saya akan sampaikan jawabannya kepada yang meminang," kata Mahfud. 
 

Mahfud MD bertemu dengan Ketua Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie, Jakarta, 5 April 2018. (NET/Radika Kurniawan) 

Djayadi Hanan mengatakan Mahfud MD merupakan salah satu figur calon wakil presiden yang sangat bagus dan potensial bagi poros Jokowi maupun Prabowo. Kata Djayadi, Mahfud MD memiliki kapabilitas di bidang hukum dan politik yang mampu mengawal penuntasan penindakan korupsi di Indonesia.

“Tidak hanya profesional di bidang hukum, pernah menjadi politisi anggota DPR sehingga dia mengerti bagaimana langkah politik bekerja,” kata Djayadi. Djayadi mengungkapkan Mahfud MD berpeluang besar untuk dipinang oleh Jokowi, mengingat Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII) ini adalah representasi kaum muslim. “Untuk Jokowi dia bisa mewakili kalangan Islam Masyumi ataupun NU,” tutup Djayadi.

7Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kanan) mendampingi Presiden Joko Widodo mengantar Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde  (kedua kiri) blusukan ke Pasar Tanah Abang Jakarta, Senin 26 Februari 2018. (ANTARA/Wahyu Putro A)


Salah satu srikandi yang digadang-gadang menjadi cawapres Jokowi di bursa Pilpres 2019 adalah Sri Mulyani Indrawati. Menteri Keuangan di Kabinet Kerja ini memiliki segudang prestasi di bidang ekonomi dan menjadi salah satu menteri kepercayaan Presiden Jokowi. Di beberapa kesempatan Jokowi pernah melontarkan pujian pada Sri Mulyani. Salah satunya saat Sri Mulyani dinobatkan sebagai menteri terbaik di dunia pada acara World Government Summit di Dubai, Uni Emirat Arab.

“Ya itu pengakuan dunia dan penghargaan itu juga diserahkan langsung Sheikh Mohammad Bin Rashid Al Maktoum kepada Ibu Menkeu Sri Mulyani, dan penentuannya juga berdasarkan sebuah analisa panjang dari Ernst and Young, sebuah lembaga yang memiliki reputasi dunia yang sangat baik,” ujar Presiden Jokowi di Jakarta, 12 Februari 2018 lalu. “Ya ini kan pengakuan dunia dan hanya satu orang menteri, saya kira kita semuanya bangga,” lanjut Presiden Jokowi. 

Survei Indo Barometer yang diumumkan pada Desember 2017 menyebut cawapres potensial Jokowi setelah Gatot Nurmantyo, yaitu Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pasangan Jokowi-Sri Mulyani mendapatkan 43,4 persen dukungan. Meski demikian, di berbagai kesempatan Sri Mulyani selalu menolak berkomentar mengenai spekulasi ini. 
 

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kanan) meninjau proyek renovasi Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis 23 November 2017. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Djayadi Hanan menilai Sri Mulyani memiliki potensi bagus yang dapat menjawab problem Indonesia terkait penegakan hukum dan ekonomi. Namun Sri Mulyani, kata Djayadi, tidak memiliki partai politik.

“Sri Mulyani potensi pribadinya bagus problemnya dia akan sulit untuk berhadapan dengan partai politik. Dia bukan figur yang lentur,” ungkap Djayadi.

Menurut Djayadi Sri Mulyani berpeluang menjadi cawapres Jokowi. Meski begitu, mantan Direktur Pelaksana World Bank ini harus mampu meredam resistensi politik dari figur partai lain.  “Sikap resistensi kemungkinan ada dari partai politik,” tambah Djayadi.

8Zainul Majdi

Gubernur NTB Zainul Majdi mendampingi Presiden Jokowi meresmikan operasional KEK Mandalika, di Desa Kuta, Pujut, Praya, Lombok Tengah, NTB, Jumat 20 Oktober 2017. (ANTARA/Ahmad Subaidi)

Nama Tuan Guru Bajang (TGB), sapaan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Zainul Majdi santer disebut-sebut sebagai figur yang layak maju dalam Pilpres 2019. Sosok yang bernama lengkap Muhammad Zainul Majdi ini diyakini mampu mendulang suara umat Islam ditengah menguatnya isu politik identitas.

Menanggapi hal tersebut, TGB mengaku mensyukuri aspirasi dari masyarakat sambil mengukur diri. “Jadikan 2019 kontestasi positif untuk negeri. Dengan hadirkan ide dan gagasan berisi,” ujar TGB kepada NET.Z, Kamis 5 April 2018.

Djayadi Hanan menilai TGB mampu memainkan jaringan pelajar dan alumni Al Azhar. “Dia bisa memainkan jaringan Al Azhar yang terbanyak di Indonesia,” ungkap Djayadi. “Massa TGB  itu cenderung barisan Gatot dengan Prabowo, massa-massa yang cenderung oposan terhadap Jokowi.”

Di sisi lain, Djayadi mengungkapkan TGB memiliki kelemahan untuk maju di Pilpres 2019. Menurutnya, peluang TGB untuk maju sebagai kader Demokrat kecil, mengingat Partai Demokrat sudah memiliki AHY. “Masalahnya dia berhadapan dengan AHY,” Kata Djayadi, “Sepanjang SBY masih Ketua Umum Demokrat maka peluang TGB untuk by pass AHY kecil.”

9Zulkifli Hasan

Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan (ketiga kiri) bersama sejumlah ketua umum parpol di Jakarta, Senin 10 April 2017. (ANTARA/Puspa Perwitasari)


Zulkifli Hasan patut diperhitungkan untuk meramaikan Pilpres 2019, mengingat ia memegang dua posisi penting, yaitu Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR).

Meski memiliki posisi strategis, namun peneliti komunikasi politik, Effendi Gazali menilai PAN terlambat mengusung Zulkifli Hasan untuk bersaing dengan calon alternatif lainnya. “PAN agak terlambat dalam membuat sosialisasi Bang Zul di media sosial maupun media konvensional,” kata Effendi kepada NET.Z, Senin 9 April 2018.
 

Presiden Joko Widodo (kanan) menghadiri acara buka puasa bersama di rumah dinas Ketua MPR Zulkifli Hasan (kiri), Jakarta, Jumat 2 Juni 2017. (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Di sisi lain, Djayadi Hanan mengungkapkan Zulhas, sapaan Zulkifli Hasan merupakan salah satu figur dari Islam modernis yang mampu mendulang suara untuk poros Jokowi. “Bila Zulhas jadi cawapres maka ada peluang menambah dukungan untuk Jokowi dari kalangan Islam yang selama ini cenderung kurang atau tidak suka dengan Jokowi,” ujar Djayadi.

Djayadi menambahkan peluang Zulhas untuk maju dari poros Prabowo lebih kecil mengingat elektabilitasnya tak naik-naik. “Pemilih Zulhas cenderung berasal dari ‘camp’ yang sama dengan pemilih Prabowo,” tutup Djayadi.

TIM LIPUTAN
 

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments