hero
(NET/Yudha Wardana)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

6 April 2018, 19:45 WIB

DKI JAKARTA, INDONESIA

Satu per satu pasien dokter Terawan Agus Putranto buka suara. Mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan, ternyata pernah menjadi pasien dokter Terawan. Dahlan mengaku ikut menjalani metode “cuci otak” dan merasakan hasil positif. 

“Saya percaya cairan itu tidak mengakibatkan otak saya rusak. Cairan itu mengakibatkan saluran darah saya yang semula tidak terlihat menjadi terlihat,” ujar Dahlan kepada Yudha Wardana dari NET di Surabaya, Jumat, 6 April 2018.

Dahlan Iskan berolahraga di Surabaya, 6 April 2018. (NET/Yudha Wardana)

Tak hanya dirinya, istri Dahlan pun pernah berobat ke dokter Terawan dan merasakan hasil serupa. Dahlan sendiri sangat menyayangkan sikap Mahkamah Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang memecat dokter Terawan. 

“Sangat disayangkan karena beliau kan dokter beneran, bukan dokter ecek-ecek, dokter yang tekun. Bahwa ada perbedaan seperti itu selalu akan ada. Dulu tusuk jarum juga begitu, lama-lama juga kan diterima oleh ilmu kedokteran,” tukas Dahlan.

Dahlan juga menuliskan pengalaman “cuci otak” di blog pribadinya, dahlaniskan.wordpress.com. Berikut ini cuplikan-cuplikan proses “cuci otak” di ruang operasi RSPAD yang ditulis oleh mantan Dirut PLN ini di blognya, enam tahun lalu:

1Berbagai Pemeriksaan Sebelum Operasi

Dokter Terawan, ahli radiologi berpartner dengan Dokter Tugas, ahli saraf. Berbagai pemeriksaan awal dilakukan malam itu: periksa darah, jantung, paru-paru, dan MRI. Dan yang juga penting dilakukan Dokter Tugas adalah ini: pemetaan saraf otak.

Beberapa tes dilakukan. Untuk mengetahui kondisi saraf maupun fungsi otak. Keesokan harinya, pagi-pagi, saya sudah bisa menjalani cuci otak di ruang operasi. Saya sudah tahu apa yang akan terjadi karena dua minggu sebelumnya istri saya sudah lebih dulu menjalaninya. Saat itu saya menyaksikan dari layar komputer.

Dokter Terawan Agus Putranto yang mengobati Dahlan Iskan dan istri. (NET/Yudha Wardana)

 

2Dokter Terawan Bernyanyi Sebelum Operasi

Sambil mengambil pisau bedah, Dokter Terawan mulai menyanyikan lagu kesukaannya, Di Doa Ibuku. Suaranya pelan, tapi sudah memenuhi ruang operasi itu.

Saya berbaring di depannya, di sebuah ruang operasi di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Peralatan operasi sudah disiapkan dengan rapi. Para perawat juga sudah berada di posisi masing-masing.
 

RSPAD Gatot Soebroto tempat Dokter Terawan membuka praktek. (NET/Yogi Gandanaya)

Cuci otak ini dimulai dengan irisan pisau di pangkal paha. Saat mengambil pisau, seperti biasa, adalah saat dimulainya Dokter Terawan menyanyikan lagu kesukaannya, Di Doa Ibuku.

Perhatian saya pun terbelah: mendengarkan lagu itu atau siap-siap merasakan torehan pisau ke pangkal paha yang tidak dibius. Tiba-tiba Dokter Terawan mengeraskan suaranya yang memang merdu. Saya pun kian memperhatikan lagu itu.

Saat puncak perhatian saya ke lagu itulah, rupanya Dokter Terawan menorehkan pisaunya. Tipuan itu berhasil membuat rasa sakit hanya melintas sekilas.

3Lirik Lagu yang Dinyanyikan Dokter Terawan

Dan Dokter Terawan terus menyanyi:

Di waktu masih kecil
Gembira dan senang
Tiada duka kukenang
Di sore hari nan sepi
Ibuku berlutut
Sujud berdoa
Kudengar namaku disebut
Di doa ibuku

Sebuah lagu yang isinya kurang lebih saya alami sendiri saat saya masih kecil, sebelum ibu saya meninggal saat saya berumur 10 tahun. Otomatis perhatian saya ke lagu itu. Itulah cara Dokter Terawan membius pasiennya.

BACA JUGA:
Ini Penjelasan PB IDI soal Pemecatan Dokter Terawan
Polemik 'Cuci Otak' Dokter Terawan, Ini Tanggapan Menkes
4 Bantahan Dokter Terawan Seputar Keraguan Terhadap Metode “Cuci Otak”

4Sensasi yang Dirasakan Saat Operasi

Dokter Terawan saat menggelar konferensi pers di RSPAD, 4 April 2018. (NET/Yogi Gandanaya)

Sambil terus menyanyikan Di Doa Ibuku, dia mulai memasukkan kateter dari luka di pangkal paha itu. Lalu mendorongnya menuju otak. Kateter pun terlihat memasuki otak kanan. “Sebentar lagi akan ada rasa seperti mint,” ujar Terawan.

Benar. Di otak dan mulut saya terasa pyar yang lembut disertai rasa Mentos yang ringan.

Itulah rasa yang ditimbulkan oleh cairan pembasuh yang disemprotkan ke saluran darah di otak. “Rasa itu muncul karena sensasi saja,” katanya.

Hampir setiap dua detik terasa lagi sensasi yang sama. Berarti Dokter Terawan menyemprotkan lagi cairan pembasuh lewat lubang di dalam kateter itu. Saya mulai menghitung berapa pyar yang akan saya rasakan. Kateter itu terus menjelajah bagian-bagian otak sebelah kanan. Pyar, pyar, pyar. Lembut. Mint. Ternyata sampai 16 kali.

Begitu dokter mengatakan pembersihan otak kanan sudah selesai, saya melirik jam. Kira-kira delapan menit.

Kateter lantas ditarik. Ganti diarahkan ke otak kiri. Rasa pyar-mint yang sama terjadi lagi. 

5Membersihkan Gorong-gorong Buntu di Otak

Pertanyaan yang akan saya ajukan seusai cuci otak nanti: Mengapa dimulainya dari otak kanan?
Terawan menjawab. “Karena terjadi penyumbatan di otak kiri Bapak,” katanya.

Hah? Penyumbatan? Di otak kiri? Mengapa selama ini tidak terasa? Mengapa tidak ada gejala apa-apa? Mengapa saya seperti orang sehat 100 persen?

Dokter Terawan, kolonel TNI-AD (sekarang Mayor Jendral-red) yang lulusan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta dengan spesialisasi radiologi dari Universitas Airlangga Surabaya itu, lantas menunjuk ke layar komputer. “Lihat sebelum dan sesudahnya,” ujar Terawan.
 

Dokter Terawan mendapat dukungan dari beberapa anggota Komisi I DPR RI. (NET/Yogi Gandanaya)

Sebelum diadakan pencucian, satu cabang saluran darah ke otak kiri tidak tampak di layar. “Mestinya bentuk saluran darah itu seperti lambang Mercy. Tapi, ini tinggal seperti lambang Lexus,” katanya.

Setiap orang ternyata memiliki lambang Mercy di otaknya. “Nah, setelah yang buntu itu dijebol, lambang Mercy-nya sudah kembali,” katanya sambil menunjuk layar sebelahnya. Jelas sekali bedanya.

Karena saluran yang buntu itu, beban gorong-gorong di otak kanan terlalu berat. “Lama-lama bisa terjadi pembengkakan dan pecah,” katanya. “Lalu terjadilah perdarahan di otak,” tambahnya.

Setelah cuci otak ini berhasil membersihkan gorong-gorong yang buntu, saya kembali ke kamar. Kaki tidak boleh bergerak selama tiga jam. Tapi, sore itu saya sudah bisa terbang ke Surabaya. 

6Kekaguman Dahlan Iskan pada dokter Terawan

Dahlan Iskan pernah menjalani metode "cuci otak" dengan Dokter Terawan. (ISTIMEWA)


Tiap hari Dokter Terawan sibuk dengan antrean yang panjang. Ada yang karena sakit, ada juga yang karena ingin tetap sehat.

Bagi yang cito, akan langsung ditangani. Tapi, bagi yang sehat, antrenya sudah mencapai tiga bulan. Sebab, hanya sekitar 15 orang yang bisa ditangani setiap hari. Lebih dari itu, bisa-bisa Terawan sendiri yang akan mengalami perdarahan di otaknya.

Belum diterimanya metode itu oleh dunia kedokteran di seluruh dunia membuat gerak Terawan terbatas. Misalnya tidak bisa secara terbuka mengajarkan ilmunya itu ke dokter-dokter lain agar antrean tidak terlalu panjang. Sampai hari ini (blog ditulis pada tanggal 18 Februari 2013-red), baru dialah satu-satunya di dunia yang bisa melakukan cara itu.

YUDHA WARDANA 

8

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments