hero
(ANTARA)

EDITOR : FEBRY ARIFMAWAN

27 Maret 2018, 15:40 WIB

INDONESIA

Masuknya Uber di Asia Tenggara dimulai dari Singapura lima tahun. Tak tanggung-tanggung, Uber menanamkan investasi senilai US$700 juta untuk mengongkosi ekspansinya di delapan negara Asia Tenggara. Konsep berbagi tumpangan (ridesharing) ini telah diterapkan oleh Uber di Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja dan Myanmar.

Kini bisnis Uber Asia Tenggara telah resmi dibeli oleh Grab, perusahaan transportasi online dari Malaysia. Apa saja yang akan dilakukan Uber setelah akuisisi ini? Berikut deretan informasinya dari CEO Uber Dara Khosrowshahi lewat siaran pers yang diterima oleh NET.Z.
 

Uber menyerahkan bisnisnya di Asia Tenggara kepada Grab. (UBER)

 

1Pegawai Uber Asia Tenggara akan Dipindah ke Grab

“Sekitar 500 rekan kerja di wilayah ini akan bertransisi ke Grab, dan dalam beberapa minggu ke depan kita akan membantu para pelanggan untuk beralih ke aplikasi Grab,” kata CEO Uber Dara Khosrowshahi dalam siaran persnya.

Grab dan Uber berjanji akan memuluskan perpindahan mitra pengemudi, penumpang, pelanggan, rekanan pengantaran, hingga merchant yang ada di aplikasi Uber ke aplikasi Grab. Aplikasi Uber sendiri masih akan beroperasi hingga dua pekan ke depan. Pelanggan Uber masih bisa menggunakan aplikasinya hingga 8 April 2018 mendatang.

2Uber akan Konsentrasi di Negara atau Regional Tertentu

Dara Khosrowshahi mengakui bahwa konsolidasi seperti merger dengan Grab di Asia Tenggara ini bukanlah strategi paling tepat. Meski demikian, realitas bisnis di lapangan memaksa Uber menempuh langkah ini. Asia Tenggara merupakan penjualan operasional Uber yang ketiga. Sebelumnya Uber telah menyerahkan bisnisnya kepada Didi Chuxing di China dan Yandex Rusia. 

“Salah satu potensi risiko dari strategi global kita adalah kita berkompetisi di terlalu banyak medan dengan terlalu banyak pemain. Konsolidasi ini memungkinkan kita untuk berkompetisi di pasar-pasar utama kita,” kata Dara. 
 

Grab akan mengintegrasikan aplikasinya dengan Uber. (ANTARA) 

Managing Partner Inventure, Yuswohady yang telah banyak meneliti tentang bisnis digital membenarkan pendapat Dara. “Eropa dan Amerika Serikat merupakan wilayah dimana Uber masih kuat,” kata Yuswohady. Menurutnya, brand Uber tidak begitu kuat di Asia Tenggara sehingga mereka realistis dengan melepas bisnisnya kepada Grab. “Grab dan Gojek sudah lebih dulu mengambil momentum sebagai pemain utama di wilayah ini,” imbuh Yuswohady.

3Merger dan Akuisisi Bukanlah Strategi Utama

Uber akan lebih fokus pada pertumbuhan organik yaitu pertumbuhan yang berasal dari membangun produk, servis, dan teknologi, serta membangun kembali merek mereka. “Saya percaya menggabungkan kekuatan bersama Grab adalah hal yang benar bagi Uber untuk jangka panjang,” papar Dara.

TIM LIPUTAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments