hero

EDITOR : ALFIAN SYAFRIL

20 Maret 2018, 14:35 WIB

ACEH, INDONESIA

Nyak Sandang menyimpan bukti sejarah pengorbanan rakyat Aceh untuk Indonesia. Pria 91 tahun itu ikut menyumbang uang untuk pembelian pesawat pertama Indonesia, Seulawah R-001.

Bagaimana cerita Nyak Sandang yang juga akrab disapa Ayah Sandang itu tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia? NET menemui Nyak Sandang di kediamannya di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Kamis, 15 Maret 2018.

1Menjual Sepetak Tanah dan Menyumbang 100 rupiah

Tahun 1948, Presiden Pertama Indonesia Soekarno berkunjung ke Aceh. Lawatan Soekarno saat itu untuk mencari dana guna membeli pesawat. Seluruh pemuda dan pengusaha dikumpulkan untuk membahas hal tersebut.

Nyak Sandang masih berusia 23 tahun. Bersama ayahnya, ia ikut menyumbang sebanyak Rp100. Uang itu didapat dari penjualan sepetak tanak.

Nyak Sandang di warung kopi di Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Kamis, 15 Maret 2018. (NET/Munandar Syamsuddin) 

Alasan dia menyumbang saat itu didasari kecintaan pada Indonesia. Ia mengaku ikhlas dan tidak mengharapkan timbal balik dari pemerintah.

2Masih Menyimpan Obligasi Pembelian Pesawat

Nyak Sandang menunjukkan bukti dokumen berupa obligasi atau surat pernyataan utang dari pemerintah Indonesia yang dikeluarkan tahun 1950.

Nyak Sandang menunjukkan obligasi dari pemerintah Indonesia yang dikeluarkan tahun 1950. (NET/Munandar Syamsuddin)

Cikal bakal obligasi itu adalah kunjungan Presiden Pertama Indonesia Soekarno ke Aceh. Setelah disetujui, ratusan warga menyumbang dengan cara patungan. Salah satunya Nyak Sandang. 

Pembelian obligasi itu dilakukan setelah mendengar orasi Abu Daud Beureueh, ulama dan Gubernur Aceh waktu itu. Orasi itu menekankan pentingnya republik memiliki angkutan udara kala itu.

Surat pernyataan utang dari pemerintah Indonesia ke Nyak Sandang. (NET/Munandar Syamsuddin)

 

3Dijanjikan akan Dikembalikan dalam Kurun Waktu 40 Tahun

Nyak Sandang mengatakan, sumbangan modal pembelian pesawat itu akan dikembalikan beserta dengan pemberian hadiah dalam kurun waktu 40 tahun. "Dijanjikan 40 tahun dipulangkan modal dan diberikan hadiah. Itu janji Bung Karno saat itu melalui gubernur," kata Nyak Sandang.

Nyak Sandang dan istrinya, Fatimah duduk beristirahat di teras rumanya di Gampong Desa Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya. (NET/Munandar Syamsuddin)

Namun begitu, hingga 72 tahun Indonesia merdeka, Nyak Sandang belum pernah menerima pembayaran utang negara serta bantuan lain. Lelaki kelahiran 4 Februari 1927 silam itu telah melewati waktu puluhan tahun menunggu kabar itu.

"Ini sudah 68 tahun, belum ada apa pun yang diberikan oleh Indonesia," sambung dia.

4Berharap Naik Pesawat dan Berhaji

Usia tua tidak menyurutkan semangat Nyak Sandang ketika bercerita soal sejarah. Ada satu harapan yang disimpan Nyak Sandang, yaitu menunaikan keinginannya naik pesawat dan berhaji.

"Saya berharap kepada Presiden, jika panjang umur saya ingin naik haji," tukas Nyak Sandang.

Nyak Sandang, penyumbang pesawat yang tak pernah naik pesawat. (NET/Munandar Syamsuddin)

Hasrat itu sudah sejak lama terbesit di lubuk hatinya. Ia kembali berharap perhatian dari pemerintah.

MUNANDAR SYAMSUDDIN

25

shares
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments