Nursaka, salah seorang bocah asal Indonesia yang berdomisili di Malaysia mempunyai kisah unik. Meski terpaut jarak yang cukup jauh, ia mau menempuh perjalanan ke sekolahnya di Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Agar tidak terlambat, pagi buta usai salat subuh, Nursaka sudah mempersiapkan diri untuk berangkat kesekolah dari rumahnya di Tebedu, Malaysia. Pukul 04.30 waktu Malaysia, bocah delapan tahun ini sudah memulai aktifitasnya. Setelah siap, Sudarsono, ayah Saka, mengantarnya menuju ke tempat angkutan yang biasa dinaikinya setiap hari. 

Nursaka setiap hari ke sekolah melintasi perbatasan Indonesia - Malaysia. (NET/Soepriyadi Gunawan) 

“Cari tumpangan, ada orang keluar, terus Saka numpang orang, semacam kawan yang dikenali,” ujar Julini, ibu Saka. Tujuannya ke pos perbatasan negeri jiran.

“Namanya orang tua pasti khawatir, berangkat kita tidak khawatir karena tahu siapa yang ditumpangi. Tapi pulang kami khawatir, siapa-siapa orang yang ditumpanginya, terlambat sedikit khawatir,” lanjut Julini. 

Sesampainya di perbatasan Malaysia-Indonesia, dengan berjalan kaki Saka melintasi pos lintas batas antar kedua negara. Meski masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Dasar (SD), Saka taat aturan. Ia membawa dokumen administrasi yang lengkap, mulai dari paspor sampai kartu pas lintas batas.

Nursaka melewati pos perbatasan di Malaysia. (NET/Soepriyadi Gunawan) 

Satu per satu tempat pemeriksaan dilewatinya. Keluar dari pos Entikong, Ibu Emi, tukang ojek yang biasa mengantar saka ke sekolah sudah menunggu di pintu keluar pos. Diantarlah Saka ke sekolahnya di SDN 03 Sontas, Kecamatan Entikong. 

Satu per satu kegiatan sekolah diikutinya sebelum masuk kelas, seperti memungut sampah, baris-berbaris di halaman, mengikuti pembacaan teks Pancasila dan Sumpah Pemuda. Setelah kegiatan tersebut, barulah proses belajar-mengajar di kelas dimulai. 

Di dalam kelas Saka terbilang anak yang pendiam, namun Saka tidak pernah canggung jika diminta guru untuk maju mengerjakan soal di papan tulis. Halijah, kepala sekolah SDN 03 Sontas mengatakan karena jarak yang ditempuh Saka cukup jauh, anak ini biasa terlambat sampai sekolah. Meski terlambat, Saka tetap mengikuti proses belajar mengajar seperti biasanya. “Di kelas dia lumayan pintar,” kata Halijah. 

“Setahu saya selama saya tugas disini, belum ada yang kayak Saka. Ada yang tinggal di Malaysia, tapi kalau mereka bersekolah disini, ya pindah kesini yang orang Indonesianya,” lanjut Halijah.

Julini, ibu Nursaka dan adik Nursaka. (NET/Soepriyadi Gunawan) 

Sepulang sekolah, Saka biasanya membantu orang tuanya seperti memberi pakan ternak ayam dan bebek yang dipelihara sang ayah. Ia juga membantu memetik hasil kebun seperti lada, cabai, gambas, dan lainnya. Untuk menambah penghasilan keluarga, tak jarang Saka mencari kaleng alumunium di pinggir jalan dan di sekitar rumah makan yang ada di Tebedu.

Saat petang menjelang, seperti pada umumnya anak-anak lain, Saka kumpul bersama keluarga dan makan malam bersama. Setelah Nurman, adik bungsunya tidur, barulah Saka belajar ditemani sang ibunya.

Begitulah aktifitas Nursaka setiap harinya, bocah SD yang bersemangat tinggi untuk menuntut ilmu meski melintasi dua negara setiap hari. Bocah ini punya cita-cita mulia dengan menjadi dokter gigi. Sang ibu pun bangga pada kegigihan Saka. “Saya bangga, harapan saya dia jadi orang sukses,” pungkas Julini.

SOEPRIYADI GUNAWAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments