Pengembang asal Jepang, Sumitomo Group, berencana membangun pencakar langit berbahan dasar kayu. Rencana ini sontak menggemparkan jagad perkonstruksian. 

Namun ternyata, grup konglomerasi asal Jepang itu bukanlah pengembang pertama yang melakukan hal ini. Gedung dari kayu sudah lama dimiliki Pusat Kemahasiswaan University of British Columbia, di Vancouver, Kanada. Gedung tersebut, hingga kini, masih memegang rekor sebagai bangunan kayu tertinggi dunia dengan tinggi mencapai 53 meter.

Baca Juga: Jepang Bangun Gedung Pencakar Langit Berbahan Kayu

Gedung berbahan kayu lainnya dibangun di Vienna, Austria dan akan selesai pada akhir tahun ini. Bangunan berlantai 24 itu memiliki tinggi 84 meter, terdiri dari unit apartemen dan hotel. 

Oleh sang pengembang bangunan tersebut dinamakan HoHo Tower, 76 persen bahannya menggunakan kayu dan 24 persen sisanya berasal dari besi baja. Dengan bahan kayu, pengembang mengklaim telah mengurangi emisi karbon sebesar 2800 ton.

Tren pengembang yang menggunakan kayu sebagai bahan dasar terus meningkat dari tahun ke tahun. Semakin canggihnya teknologi konstruksi dan perkayuan turut melatarbelakangi perubahan ini.

"Kemajuan teknologi di bidang teknik konstruksi dan percampuran kayu membuat semua ini terasa menyenangkan. Selain kuat, percampuran kayu ini juga bersifat dapat diperbaharui," ujar Riccardo Tossani, arsitek yang membangun rumah kayu raksasa di kaki Gunung Fuji kepada Telegraph. 

Meski animo terhadap bahan dasar kayu meningkat, usaha para pengembang ini bukannya tanpa hambatan. Hal pertama yang harus dihadapi Sumitomo Forestry Co dalam membangun gedung W350 adalah; peraturan membangun gedung di Jepang yang terkenal sangat rumit dan ketat.

Meski kayu digunakan orang Jepang turun temurun untuk membangun rumah, nyatanya pemerintah tetap melarangnya. Peraturan ini dibuat berdasarkan kajian sejarah; mengingat banyaknya rumah kayu yang hancur dan terbakar pada saat Perang Dunia ke-2 berkecamuk di seantero Asia Pasifik.

Namun, pemerintah Jepang secara perlahan telah melonggarkan peraturan itu. Hal ini terlihat dari masifnya penggunaan kayu di stadion yang mereka bangun untuk Olimpiade 2020.

"Bagi Jepang bahan ini (kayu) sangat istimewa. Sebab, kayu mudah diperoleh dan sangat cocok untuk membangun bangunan di wilayah yang rawan terkena bencana alam." 

"Kayu dapat menyesuaikan dan meredam pergerakan yang ada di tanah. Sementara beton kaku, tidak memiliki fleksibilitas dan mudah hancur," tambah Tossani

DAILY MAIL | THE GUARDIAN

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments