Kapal perang Inggris akan melakukan pelayaran melintasi laut Cina Selatan pada bulan depan. Menteri Pertahanan Inggris Gavin Williamson mengatakan, pihaknya akan memastikan bahwa kebebasan bernavigasi masih berlaku di wilayah sengketa tersebut.

Kali terakhir kapal Inggris melintasi Laut Cina Selatan terjadi enam bulan lalu. Pelayaran itu memantik kegeraman dari pihak Cina, mereka menganggap itu sebagai sebuah tindakan provokasi. 

Sebelumnya, Cina mengklaim sebagian besar wilayah Laut Cina Selatan sebagai miliknya. Mereka bahkan mendirikan pangkalan militer guna melegitimasi pengakuannya. Tak hanya Cina, negara-negara ASEAN juga mengklaim kepemilikan laut kaya mineral itu, mereka di antaranya adalah Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.

Kapal Inggris yang akan menjalankan misi berbahaya ini adalah HMS Sutherland. Kapal jenis fregat itu lepas jangkar setelah sebelumnya berlabuh di perairan Australia. 

Gavin Williamson tidak menjelaskan apakah armadanya akan berlayar pada jarak 12 nautikal mil dari pusat sengketa atau tidak. Sebelumnya, beberapa kapal Angkatan Laut AS menempuh jarak tersebut sehingga memicu ketegangan dengan militer Cina.

"Ia (HMS Sutherland) akan berada di Laut Cina Selatan dan memastikan angkatan laut kita bisa berlayar di sana," ujar Williamson kepada media lokal Australia.

Dilansir Business Insider, Selasa (13/2), kabar kapal Inggris akan melintasi Laut Cina Selatan telah sampai ke telinga pejabat Beijing. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Cina mengecam rencana itu. Menurutnya belum ada perjanjian yang mengatur seluruh kapal bebas bernavigasi di wilayah sengketa.

"Situasi di Laut Cina Selatan terus berkembang setiap hari. Kami berharap pihak-pihak luar dapat menghormati upaya damai yang diciptakan negara regional," ujar Juru Bicara Kementerian Cina Geng Shuang.

Pada sebuah wawancara, Menteri Pertahanan Inggris mendorong Australia untuk lebih proaktif menyikapi ketegangan di Laut Cina Selatan. Ia mencontohkan Inggris yang telah berulang kali melakukan penerbangan menggunakan pesawat mata-mata di wilayah udara Laut Cina Selatan. 

"Amerika Serikat mengajak negara lain untuk terlibat di wilayah sengketa. Dan ini adalah waktu yang tepat bagi Inggris dan Australia untuk berbuat lebih banyak menjalankan kepemimpinannya," tambah Gavin Williamson.

Agitasi Amerika Serikat dipicu langkah militer Cina yang membangun pangkalan di sekitar Kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan. Langkah sepihak itu menuai kecaman keras dari dunia internasional. Di tengah desakan untuk menutup pangkalan militer, Cina justru membatasi akses menuju Kepulauan Spratly dan semakin memperluas zona militernya. 

Negara ASEAN tidak dapat berbuat banyak atas aksi militer Cina. Mereka hanya bisa mendorong agar negosiasi untuk mengatur kode etik di Laut Cina Selatan segera dipercepat. 

Pembicaraan awal mengenai masalah ini sebelumnya pernah dibahas oleh ASEAN dan Cina. Namun tidak pernah mencapai konsesus dan hanya berakhir dengan kekhawatiran di antara negara-negara ASEAN.

BUSINESS INSIDER

0

share
X

Report Comment

You must login to report comment

<% totalComment() %>
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments
No Comment Yet
<% comment.user.name %>
  • reply
  • <% child.user.name %>
    View More Comments
View More Comments